Home > Islam > Kekayaan yang Tiada habis, Inginkah Engkau memilikinya?

Kekayaan yang Tiada habis, Inginkah Engkau memilikinya?

April 22nd, 2009
“Ketika seorang mukmin memahami nilai dunia dan hakikat kehidupan di dunia; ketika hati seorang mukmin digenangi oleh keimanan dan makrifat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya;maka ketika itu… akan lahirlah karakter mental yang sungguh berharga, yaitu qona’ah.” (Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al Atsari dalam bukunya “Qona’ah, Kekayaan Tiada Habisnya.”)
Qona’ah , merasa cukupdengan apa yang ada. Mudah diucapkan, sulit untuk dipraktekkan. Di zaman sekarang ini, sulit rasanya mewujudkan ini hanya dengan nasihat singkat, “Nak, bersikaplah Qona’ah agar hidupmu tenang” atau nasihat-nasihat sejenis. Keterangan singkat yang disisipkan pada pengajian-pengajian juga belum mencukupi untuk menumbuhkan harta yang tiada habisnya ini. Hadits-hadits tentang qona’ah yang kita baca pun, (terkadang) tidak cukup membantu untuk serta merta memunculkan sifat itu pada diri kita, kecuali orang-orang yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Fondasi Qona’ah
Fondasi yang utama dan pertama adalah keyakinan yang benar. keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengenal Allah dengan nama dan sifat-sifat-Nya berikut keagungan dan keindahan yang dikandungnya; keimanan yang mantap kepada hari akhir, keyakinan yang benar tentang takdir yang baik dan buruk; semua itu merupakan landasan utama untuk menumbuhkan sifat dan karakter mental yang sangay mahal harganya ini.

Inginkah Engkau Memiliki Kekayaan Itu?
Sebagaimana akhlak-akhlak mulia lainnya, sebagai karakter mental, Qona’ah dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya pendidikan, lingkungan, bertambah dan berkurangnya iman, serta ketinggian dan kerendahan cita-cita Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari menyebutkan beberapa faktor yang mendukung kita untuk memperoleh akhlak yang sangat berharga ini :

1. Ilmu Agama

Inilah faktor utama memperoleh harta yang tidak terkira ini. Dengan ilmu, kita mengetahui hakikat, manfaat dan bahaya jika melalaikan qona’ah.

2. Iman Mantap
Ilmu yang kita miliki (insya Allah) berbuah menjadi keimanan yang mantap. Kuat lemahnya sifat qona’ah dalam menghadapi berbagai “fitnah” dunia ini, sesuai dengan tingkat kekuatan iman yang ada pada setiap kita.

3. Faham Qodha dan Qadar
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membagi-bagi rizki dan keadaan hidup seluruh manusia sejak Zaman azali. Sikap ridho seorang mukmin dalam menghadapi ketetapan Qadha dan Qadar Allah akan memberikan kepadanya mata yang jeli dalam melihat kondisi kehidupan dan hakikat pembagiannya. Yang menetapkan rizkinya adalah Allah, Allah juga yang telah membeda-bedakan tingkat rizki, melebihkan yang satu terhadap yang lainnya. Pebedaan ini merupakan ujian bagi kita.

4.Pejuangan Bersabar
Sesuai dengan kebijaksanaan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memmberi kita nafsu yang senantiasa menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat Tuhan (Yusuf:53). Salah satu bentuk keliaran nafsu adalah permusuhannya terhadap sikap Qona’ah. Selama kita tidak melawan nafsu beserta keliarannya, ketika itu kita telah membuka pintu-pintu ambisi ketamakan, kerakusan, kekikiran dan keluh kesah.

5. Memohon kepada Allah
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, sikap menjaga martabat, dan kekayaan.”(HR. Muslim) Syaikh Abdurrahman Nashir As-Sa’di, berkata:”Ini merupakan salah satu doa yang paling luas cakupan maknanya dan paling bermanfaat. Doa ini mengandung permohonan agar dikarunia kebaikan didunia dan akhirat.

6.Jauhi si Pengeluh
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Seseorang mengikuti agama kawan dekatnya, maka hendaklah setiap “orang dari kalian memperhatikan siapa yang menjadi kawan dekatnya. “Andaikata anak Adam memiliki dua lembah emas, pasti ia ingin memiliki dua lembah, dan mulutnya tidak kunjung bisa dipenuhi, kecuali dengan tanah. Dan Allah menerima taubat siapa yang bertaubat.

Sumber:  ( aliapesonamuslimah.com )

Islam , , ,

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.