Bekal Mati dan Penerang Kubur
Mati itu aksiomatik, siapapun tak punya kuasa menawar genderang kematian, walau sedetikpun. Ia seperti bom waktu. Tak seorang pun mampu menghindari, melambatkan atau menundanya walau sekejap pun ( QS 3:185; 7:34;10:49,16:61; 21:35;29:57).
Selanjutnya, kematian adalah suatu kenyataan empirik yang harus diterima oleh semua setting-sosial, dari rakyat jelata sampai kelas raja, dari bajingan sampai ajengan. Kafirmu’min, sama saja. Di hadapan kematian, semua orang tak ada bedanya. Semua manusia tunduk pada kebenaran kuasa Allah Ta’ala seiring dengan keampuhan kalimat inna li’llahi wa inna ilayhi raji’un.
“Tidak satu pun di antara kami yang tidak membenci kematian”, jawab ‘Aisyah ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bertanya tentang bisyarah kematian atau ketika ‘Aisyah belum ditinggal mati oleh Nabi (Bukhari, At-Tauhid: 6950; Muslim, no: 4845).
Khabbab, sahabat Qais bin Abu Hazim ra, bergumam: “Kalau bukan karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melarang aku berdoa supaya cepat mati, niscaya aku akan berdoa untuk itu” (Bukhari, Tamanni: 6693; Mardha: 5240; Muslim, Istighfar: 4842).
Tapi anehnya, ketika fitnah kiamat semakin merajalela, kematian justru tidak lagi menjadi kekhawatiran. Yang terjadi justru sebaliknya, orang malah minta mati. Abu Hurairah ra meriwayatkan, seorang lelaki datang berziarah ke kuburan saudaranya, lalu berkata, “Jika saja dibolehkan, aku ingin berada di tempat mayat itu (mati).” (Bukhari, Fitnah: 6582 ; Muslim,Fitnah: 5175).
Imam Ibnu Qudâmah (w.689 H) dalam “Minhaju’l-Qashidin nya mencatat, dengan kematian ini calon mayat melihat segala sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan dalam hidupnya, seluruh tayangan amal yang selama ini direkam malaikat pencatat amal, terpampang jelas di pelupuk matanya saat sakaratul maut menjemput. Visualisasi itu tidak jauh beda dengan cerita orang yang terjaga dari tidurnya. Ia terbangun dari mimpi buruknya tanpa bisa melihat apa yang baru ia saksikan.
Begitu pula ketika menghadapi sakarat. Manusia layaknya seperti orang yang sedang tidur, tidak sadar apa-apa. Sesuai informasi Al Qur’an, tidur memang kematian yang kecil (QS 6:60). Manusia baru sadar, jika sudah mati, saat berada dalam liang lahat dan ditinggal pergi oleh keluarga dan hartanya (HR. Muttafaq ‘alaih, Bukhari. ar-Riqaq:6033; Muslim: az-Zuhud wa ar-Riqâq:no.5260 dari Anas bin Mâlik).
Sampai sekarang, belum ada eksperimen dan riset ilmiah yang mampu membuka tabir kematian dalam semua bentuknya. Mengutip Hujjatu’l-Islam, Abu Hamid Al-Ghazali (450-505 H/1057-1111 M) dalam “Kitab’- ul Mawt”, sampai kapan pun, kematian tetap menyimpan misteri. Disebut misteri karena hakikatnya hanya dirasakan oleh orang yang mengalaminya,tanpa bisa menginformasikannya dengan tujuan ibrah terhadap mereka yang masih hidup. Literatur kematian menyebutkan, setidaknya ada tiga penyebab utama, mengapa manusia cenderung menghindar (QS 4:78), takut (QS 4:77) sampai lari (QS 33:16) dari kematian.
Pertama: Karena naza’, yaitu berpisahnya ruh dari jasad. Sakitnya getaran naza’, karena terjadi tarikmenarik kehendak. Antara kehendak jasad yang tidak mau berpisah dan kehendak ruh yang tidak tega pergi, karena sudah lama menyatu dalam raga. ”Maka, ingatlah ketika nyawa sudah di kerongkongan, sedang kalian pada saat itu melihat. Kami juga lebih dekat kepadanya daripada kalian. Hanya saja kalian tidak bisa melihat.” (QS 56:84-85).
Kedua, melihat rupa malaikat maut (QS 6:93). Pada saat ini, manusia dihadapkan pada dua ketakutan sekaligus: pada maut itu sendiri yang diawalnya telah mendatangkan daya getar, danwajah malaikat maut. Dua malaikat maut yang dikawal masingmasing tujuh malaikat rahmat dan malaikat adzab, duduk di sebelah kanan dan sebelah kirinya, siap menunaikan tugas disusul kehadiran malaikat penggiring dan malaikat penyaksi (QS 50:17-21). Sementara pada saat itu, manusia hanya bisa melihat tanpa reaksi dan perlawanan apa-apa (QS 56:84). Saat itulah malaikat an-nazi‘at dan an-nasyitat bekerja. Malaikat an-nazi’at, mencabut ruh orang kafir dan ahli maksiat dengan sangat kasarnya, sementara malaikat an-nasyithat dengan lemah-lembut mencabut nyawa orang-orang mukmin. (QS 79:1-5). Penampilan wajah malaikat maut bergantung pada baik-tidaknya nyawa orang yang akan dicabutnya. Tafsir Ibnu Abbas setelah meriwayatkan kisah kematian Nabi Ibrahim as, ia mengatakan, cukuplah wajah malaikat maut itu menjadi ketakutan yang dahsyat sebelum nyawa seseorang dicabutnya. “Alangkah dahsyatnya, sekiranya kalian melihat orang orang dzalim berada dalam tekanan sakaratul maut. Para Malaikat memukul (nyawa) dengan tangannya, sambil berkata: “keluarkanlah nyawamu.” (QS 6:93).
Ketiga, ketakutan terhadap bayangan dosa. Episode kematian dimulai dari penampakan dosa (iradhu’ l -adhghan,QS 40:46 ; 47:29), dari shagha’ir sampai kaba’ir, dari sayyi’at sampai ma’ashi, tanpa ada yang dilewatkan, sekecil apapun bentuknya. Ibnu Umar meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata, ‘’Apabila salah seorang di antara kalian meninggal dunia, maka kepadanya akan ditampakkan tempatduduknya, pagi dan petang. Sekiranya dia di kalangan ahli surga, akan diperlihatkan kepadanya surga. Sekiranya dia dari kalangan ahli neraka, akan diperlihatkan kepadanya neraka. Diberitahu kepadanya, inilah tempatmu hingga kamu dibangkitkan oleh Allah pada hari Kiamat” (Bukhari, janazah:1290 ; Muslim, jana’iz: 5110 ; Turmudzi, janaiz:992 ; Nasa’i: 2043 ; Ibnu Majah, Zuhud:4260 ; Ahmad, II:16, 50 ; Malik, jana’iz: 502).
(oleh : KH. Syuhada Bahri, Ketua Umum Dewan Da‘wah Islamiyah Indonesia)
Sumber: ( aliapesonamuslimah.com )






Recent Comments