Archive

Archive for the ‘Islam’ Category

Tubuh Itu Merekam

July 27th, 2009

DALAM Alquran (Yasin: 65) dinyatakan, di akhirat kelak anggota tubuh kita akan memberikan kesaksian atas apa yang diperbuatnya selama di dunia.

Tangan, kaki, dan anggota badan lain akan berbicara sehingga mulut tidak bisa membantah dan berbohong. Pendeknya dalam pengadilan di akhirat kelak kita tak akan mampu membohongi diri sendiri dan malaikat karena anggota tubuh akan menjadi saksi yang bisa memberatkan atau meringankan, tergantung pada perbuatan yang pernah dilakukan di dunia. Hakim yang kita hadapi di akhirat kelak bukanlah hakim yang dapat disuap dengan uang sebagaimana yang terjadi di dunia.

Tak akan ada yang mampu menolong diri kita kecuali rekaman iman dan amal kebajikan kita sendiri. Apa yang disampaikan Alquran di atas secara ilmiah sangat mudah untuk dibuktikan bahwa tubuh itu merekam apa yang biasa kita lakukan dan pikirkan. Contoh yang paling sederhana adalah rekaman pengalaman naik sepeda. Mungkin ada di antara kita sudah puluhan tahun tidak pernah naik sepeda.Tetapi karena dahulunya pernah dan biasa naik sepeda, andaikan disodori sepeda pasti bisa mengendarainya.

Mengapa? Karena tubuh kita, terutama kaki dan tangan,memiliki rekaman bagaimana mengendarai sepeda,sehingga rekaman tadi muncul lagi ketika disuruh naik sepeda. Namun, mereka yang dahulunya tidak pernah,yang berarti tidak memiliki rekaman pengalaman, pasti perlu waktu lama dan mulai dari nol untuk belajar naik sepeda. Contoh ini dapat diperbanyak lagi, misalnya apa yang direkam oleh lidah tentang rasa makanan.

Tanpa diberi tahu apa namanya, begitu melihat, mencium baunya, dan merasakan rasa makanan yang dahulu suka kita makan waktu kecil sudah langsung tahu apa nama makanan itu dan bagaimana rasanya. Bahkan andaikan makanan itu disajikan dalam keadaan gelap, kita akan bisa mengenalinya. Bagaimana bisa? Karena lidah kita memiliki rekaman akan berbagai rasa makanan.

Dalam sebuah penelitian kajian neurologi dibuktikan bahwa selsel otak ternyata menyimpan berbagai informasi dan pengalaman yang terekam sejak kecil yang umumnya sudah kita lupakan. Ketika dilakukan eksperimen dengan pembedahan otak, tetapi yang bersangkutan tetap sadar, ternyata ketika dirangsang sel-sel saraf tertentu mampu menceritakan berbagai pengalaman sewaktu kecil.Eksperimen ini memperkuat teori bahwa semua yang pernah kita ketahui dan pikirkan terekam dalam jaringan saraf otak. Jadi, apa yang dikatakan Alquran tadi semakin diperkuat oleh eksperimen ilmiah.

Teori bahwa tubuh merekam saya amati dan buktikan sendiri ketika ayah saya sakit, dirawat di rumah sakit di Magelang selama satu minggu. Saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari peristiwa ini. Betapa tidak? Bayangkan, ketika dia sembuh dan telah kembali ke rumah, saya bertanya kepadanya, “Bagaimana pengalaman Bapak ketika di rumah sakit?”Dia jawab, “Saya lupa.” Sungguh ini hal yang aneh. Dia bilang sudah lupa dengan apa yang terjadi di rumah sakit. Jadi, secara fisik sebenarnya dia memang sakit, tetapi secara mental dia sama sekali tidak merasa dirinya sakit.

Yang sangat mengesankan saya, saat dirawat di rumah sakit, setiap kali datang waktu salat, dia selalu minta air untuk wudu atau minta diberi kesempatan untuk tayamum karena mau salat. Rupanya tubuh dan mentalnya merekam ritme jadwal salat sehingga setiap datang waktu salat, jam badannya (biological clock) memberi isyarat secara refleks dan otomatis bergegas untuk mendirikan salat karena ayah saya ketika sehat selalu salat tepat waktu lima kali sehari.

Jadi, ketika sakit, jam badan itu bekerja layaknya weaker yang memberi isyarat karena di dalamnya memiliki rekaman habit. Contoh lain yang dengan mudah kita saksikan dalam peristiwa-peristiwa sehari-hari adalah pengalaman sopir bus malam lintas kota. Dulu, waktu tol Cipularang belum dibuat, sebagian besar orang menggunakan jalur Puncak untuk pergi dari Jakarta ke Bandung. Pernahkah kita membayangkan bagaimana hebatnya para sopir bus jurusan Jakarta– Bandung itu ketika melawati Ciawi, Megamendung, Cisarua, Puncak Pass, Cipanas, Cianjur, dan Bandung?

Sopir-sopir bus itu dengan mudahnya menyusuri jalan berkelok yang naik-turun. Mereka sangat lihai. Mereka hafal betul kapan dan di mana harus berbelok. Mereka tahu kapan dan di mana akan ada tanjakan dan tikungan, bahkan mereka tahu di mana akan ada banyak kerumunan orang di jalan. Mengapa mereka bisa sehebat itu? Mengapa sopir itu bisa secara refleks mengendarai dan hafal situasi jalur Jakarta–Bandung? Jawabannya kita pasti tahu: itu karena kebiasaan.

Mereka telah terbiasa setiap hari melewati rute itu sehingga anggota tubuhnya merekam situasi dan keadaan yang dilaluinya. Begitu juga orang yang dulu pernah mahir bermain ping-pong atau bermain badminton, ketika dia sudah tua, meskipun sudah meninggalkan kebiasaan itu selama puluhan tahun, pasti dia akan sanggup memainkannya kembali. Mungkin gerakan dan tingkat kelihaiannya berbeda dengan masa mudanya, tetapi kemampuan dan teknik dasar bermainnya tentu akan terlihat.Jadi, kebiasaan masa lalu tak akan mudah terlupakan karena tubuh ini merekam secara kuat apa yang pernah menjadi kebiasaan dan kesukaan atau hobi.

Cerita di atas menyimpan pesan yang sangat dalam. Bahwa hendaknya kita membiasakan berpikir, berbicara, dan berbuat yang baik-baik, agar ketika sakit atau menjelang ajal nanti, rekaman kebaikan itu yang akan menemani dan mengawal kita menempuh perjalanan lebih lanjut. Coba renungkan, ada kejadian pada orangtua yang menjelang ajal, tetapi sangat-angat sulit untuk mengucapkan zikir seperti tahlil, tahmid, takbir. Hal ini disebabkan di masa
hidupnya bacaan-bacaan zikir itu sangat asing, hati dan lidahnya tidak memiliki rekaman zikir.

Dia tidak mempunyai memori yang dapat membangkitkan kesadarannya untuk mengucapkan kalimah tayyibahitu menjelang ajalnya. Sebaliknya,sering kali saya menyaksikan bagaimana mudahnya seseorang mengucapkan zikir atau membaca asmaul husna pada saat menjelang kematiannya.Ini lantaran dia telah terbiasa untuk mengucapkan kalimat itu di masa hidupnya. Dia telah membiasakan diri untuk membasahi lidahnya dengan kalimat zikir.

Siang malam dia berzikir. Sebelum dan sesudah salat dia berzikir. Ketika tersandung batu dia beristigfar. Ketika mendengar petir dia bertasbih. Praktis, kalimat zikir telah menjadi bagian dari kebiasaannya sehari-hari sehingga ketika ajal datang menjemput dia dengan mudah mengucapkan kalimat zikir untuk menutup usianya. Karena itu, bagi orang yang mempunyai kebiasaan buruk yang selalu mengucapkan kata-kata kotor di masa hidupnya, bisa jadi menjelang sakaratul maut yang akan diingatnya hanya kata-kata kotor.

Orang yang biasa mengejek, mengomel, atau mencemooh orang lain akan tertutup hatinya untuk mengucapkan kata-kata yang baik, sebab rekaman atau memori hidupnya selalu dipenuhi dengan kebiasaan buruk itu. Saya sering kali mendapatkan kisah-kisah nyata yang menceritakan hal itu. Semoga kisah-kisah di atas dapat menjadi pelajaran berharga untuk menghadapi kematian sehingga kita menjumpai Izrail dengan senyum persahabatan.

Mari kita membiasakan diri untuk melafalkan kata-kata yang baik,selalu berzikir dan mengingat Allah SWT,membiasakan diri mengerjakan salat, berpuasa dan bersedekah,serta berbuat baik kepada sesama,sebab semua itu akan terekam dalam memori kita sepanjang hayat, baik saat hidup di dunia, menjelang sakaratul maut, atau setelah kematian kita. Husnul khatimah (pengujung yang baik) di masa kematian kita itu tidak bisa diraih dengan tiba-tiba.

Ia tak bisa dipaksa dan dibimbing oleh orang lain dengan mudah karena diri kitalah yang menentukan apakah kita sanggup mendapatkan akhir yang baik atau tidak. Husnul khatimah merupakan akumulasi dari perjalanan panjang seseorang di masa hidupnya. Rekam jejak kehidupan seseorang menentukan hasil akhir dari perjalanan hidupnya di dunia.(*)

PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT
Rektor UIN Syarif Hidayatullah

Sumber: ( http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/257204/38/ )

BLOG.em2u.WEB.ID Islam , , ,

Bekal Mati dan Penerang Kubur

May 5th, 2009

Mati itu aksiomatik, siapapun tak punya kuasa menawar genderang kematian, walau sedetikpun. Ia seperti bom waktu. Tak seorang pun mampu menghindari, melambatkan atau menundanya walau sekejap pun ( QS 3:185; 7:34;10:49,16:61; 21:35;29:57).

Selanjutnya, kematian adalah suatu kenyataan empirik yang harus diterima oleh semua setting-sosial, dari rakyat jelata sampai kelas raja, dari bajingan sampai ajengan. Kafirmu’min, sama  saja. Di hadapan kematian, semua orang tak ada bedanya. Semua manusia tunduk pada kebenaran kuasa Allah Ta’ala seiring dengan keampuhan kalimat inna li’llahi wa inna ilayhi raji’un.

“Tidak satu pun di antara kami yang tidak membenci kematian”, jawab ‘Aisyah ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bertanya tentang bisyarah kematian atau ketika ‘Aisyah belum  ditinggal mati oleh Nabi (Bukhari, At-Tauhid: 6950; Muslim, no: 4845).

Khabbab, sahabat Qais bin Abu Hazim ra, bergumam: “Kalau bukan karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melarang aku berdoa supaya cepat mati, niscaya aku akan berdoa untuk itu” (Bukhari, Tamanni: 6693; Mardha: 5240; Muslim, Istighfar: 4842).

Tapi anehnya, ketika fitnah kiamat semakin merajalela, kematian justru tidak lagi menjadi  kekhawatiran. Yang terjadi justru sebaliknya, orang malah minta mati. Abu Hurairah ra  meriwayatkan, seorang lelaki datang berziarah ke kuburan saudaranya, lalu berkata, “Jika saja  dibolehkan, aku ingin berada di tempat mayat itu (mati).” (Bukhari, Fitnah: 6582 ; Muslim,Fitnah: 5175).

Imam Ibnu Qudâmah (w.689 H) dalam “Minhaju’l-Qashidin nya mencatat, dengan kematian ini calon mayat melihat segala sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan dalam hidupnya, seluruh tayangan amal yang selama ini direkam malaikat pencatat amal, terpampang jelas di pelupuk matanya saat sakaratul maut menjemput. Visualisasi itu tidak jauh beda dengan cerita orang yang terjaga dari tidurnya. Ia terbangun dari mimpi buruknya tanpa bisa melihat apa yang baru ia saksikan.

Begitu pula ketika menghadapi sakarat. Manusia layaknya seperti orang yang sedang tidur, tidak sadar apa-apa. Sesuai informasi Al Qur’an, tidur memang kematian yang kecil (QS 6:60). Manusia baru sadar, jika sudah mati, saat berada dalam liang lahat dan ditinggal pergi oleh keluarga dan hartanya (HR. Muttafaq ‘alaih, Bukhari. ar-Riqaq:6033; Muslim: az-Zuhud wa ar-Riqâq:no.5260 dari Anas bin Mâlik).

Sampai sekarang, belum ada eksperimen dan riset ilmiah yang mampu membuka tabir kematian dalam semua bentuknya. Mengutip Hujjatu’l-Islam, Abu Hamid Al-Ghazali (450-505 H/1057-1111 M) dalam “Kitab’- ul Mawt”, sampai kapan pun, kematian tetap menyimpan misteri. Disebut misteri karena hakikatnya hanya dirasakan oleh orang yang mengalaminya,tanpa bisa menginformasikannya dengan tujuan ibrah terhadap mereka yang masih hidup. Literatur kematian menyebutkan, setidaknya ada tiga penyebab utama, mengapa manusia cenderung menghindar (QS 4:78), takut (QS 4:77) sampai lari (QS 33:16) dari kematian.

Pertama: Karena naza’, yaitu berpisahnya ruh dari jasad. Sakitnya getaran naza’, karena terjadi tarikmenarik kehendak. Antara kehendak jasad yang tidak mau berpisah dan kehendak ruh yang tidak tega pergi, karena sudah lama menyatu dalam raga. ”Maka, ingatlah ketika nyawa sudah di kerongkongan, sedang kalian pada saat itu melihat. Kami juga lebih dekat kepadanya daripada  kalian. Hanya saja kalian tidak bisa melihat.” (QS 56:84-85).

Kedua, melihat rupa malaikat maut (QS 6:93). Pada saat ini, manusia dihadapkan pada dua  ketakutan sekaligus: pada maut itu sendiri yang diawalnya telah mendatangkan daya getar,  danwajah malaikat maut. Dua malaikat maut yang dikawal masingmasing tujuh malaikat rahmat dan malaikat adzab, duduk di sebelah kanan dan sebelah kirinya, siap menunaikan tugas disusul  kehadiran malaikat penggiring dan malaikat penyaksi (QS 50:17-21). Sementara pada saat itu, manusia hanya bisa melihat tanpa reaksi dan perlawanan apa-apa (QS 56:84). Saat itulah malaikat an-nazi‘at dan an-nasyitat bekerja. Malaikat an-nazi’at, mencabut ruh orang kafir dan ahli  maksiat dengan sangat kasarnya, sementara malaikat an-nasyithat dengan lemah-lembut mencabut nyawa orang-orang mukmin. (QS 79:1-5). Penampilan wajah malaikat maut bergantung pada baik-tidaknya nyawa orang yang akan dicabutnya. Tafsir Ibnu Abbas setelah meriwayatkan kisah kematian Nabi Ibrahim as, ia mengatakan, cukuplah wajah malaikat maut itu menjadi ketakutan yang dahsyat sebelum nyawa seseorang dicabutnya. “Alangkah dahsyatnya, sekiranya kalian melihat orang orang dzalim berada dalam tekanan sakaratul maut. Para Malaikat memukul (nyawa) dengan tangannya, sambil berkata: “keluarkanlah nyawamu.” (QS 6:93).

Ketiga, ketakutan terhadap bayangan dosa. Episode kematian dimulai dari penampakan dosa (iradhu’ l -adhghan,QS 40:46 ; 47:29), dari shagha’ir sampai kaba’ir, dari sayyi’at sampai ma’ashi, tanpa ada yang dilewatkan, sekecil apapun bentuknya. Ibnu Umar meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata, ‘’Apabila salah seorang di antara kalian meninggal dunia, maka  kepadanya akan ditampakkan tempatduduknya, pagi dan petang. Sekiranya dia di kalangan ahli surga, akan diperlihatkan kepadanya surga. Sekiranya dia dari kalangan ahli neraka, akan  diperlihatkan kepadanya neraka. Diberitahu kepadanya, inilah tempatmu hingga kamu dibangkitkan oleh Allah pada hari Kiamat” (Bukhari, janazah:1290 ; Muslim, jana’iz: 5110 ; Turmudzi, janaiz:992 ; Nasa’i: 2043 ; Ibnu Majah, Zuhud:4260 ; Ahmad, II:16, 50 ; Malik, jana’iz: 502).

(oleh : KH. Syuhada Bahri, Ketua Umum Dewan Da‘wah Islamiyah Indonesia)

Sumber:  ( aliapesonamuslimah.com )

BLOG.em2u.WEB.ID Islam ,

Kekayaan yang Tiada habis, Inginkah Engkau memilikinya?

April 22nd, 2009
“Ketika seorang mukmin memahami nilai dunia dan hakikat kehidupan di dunia; ketika hati seorang mukmin digenangi oleh keimanan dan makrifat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya;maka ketika itu… akan lahirlah karakter mental yang sungguh berharga, yaitu qona’ah.” (Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al Atsari dalam bukunya “Qona’ah, Kekayaan Tiada Habisnya.”)
Qona’ah , merasa cukupdengan apa yang ada. Mudah diucapkan, sulit untuk dipraktekkan. Di zaman sekarang ini, sulit rasanya mewujudkan ini hanya dengan nasihat singkat, “Nak, bersikaplah Qona’ah agar hidupmu tenang” atau nasihat-nasihat sejenis. Keterangan singkat yang disisipkan pada pengajian-pengajian juga belum mencukupi untuk menumbuhkan harta yang tiada habisnya ini. Hadits-hadits tentang qona’ah yang kita baca pun, (terkadang) tidak cukup membantu untuk serta merta memunculkan sifat itu pada diri kita, kecuali orang-orang yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Fondasi Qona’ah
Fondasi yang utama dan pertama adalah keyakinan yang benar. keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengenal Allah dengan nama dan sifat-sifat-Nya berikut keagungan dan keindahan yang dikandungnya; keimanan yang mantap kepada hari akhir, keyakinan yang benar tentang takdir yang baik dan buruk; semua itu merupakan landasan utama untuk menumbuhkan sifat dan karakter mental yang sangay mahal harganya ini.

Inginkah Engkau Memiliki Kekayaan Itu?
Sebagaimana akhlak-akhlak mulia lainnya, sebagai karakter mental, Qona’ah dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya pendidikan, lingkungan, bertambah dan berkurangnya iman, serta ketinggian dan kerendahan cita-cita Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari menyebutkan beberapa faktor yang mendukung kita untuk memperoleh akhlak yang sangat berharga ini :

1. Ilmu Agama

Inilah faktor utama memperoleh harta yang tidak terkira ini. Dengan ilmu, kita mengetahui hakikat, manfaat dan bahaya jika melalaikan qona’ah.

2. Iman Mantap
Ilmu yang kita miliki (insya Allah) berbuah menjadi keimanan yang mantap. Kuat lemahnya sifat qona’ah dalam menghadapi berbagai “fitnah” dunia ini, sesuai dengan tingkat kekuatan iman yang ada pada setiap kita.

3. Faham Qodha dan Qadar
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membagi-bagi rizki dan keadaan hidup seluruh manusia sejak Zaman azali. Sikap ridho seorang mukmin dalam menghadapi ketetapan Qadha dan Qadar Allah akan memberikan kepadanya mata yang jeli dalam melihat kondisi kehidupan dan hakikat pembagiannya. Yang menetapkan rizkinya adalah Allah, Allah juga yang telah membeda-bedakan tingkat rizki, melebihkan yang satu terhadap yang lainnya. Pebedaan ini merupakan ujian bagi kita.

4.Pejuangan Bersabar
Sesuai dengan kebijaksanaan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memmberi kita nafsu yang senantiasa menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat Tuhan (Yusuf:53). Salah satu bentuk keliaran nafsu adalah permusuhannya terhadap sikap Qona’ah. Selama kita tidak melawan nafsu beserta keliarannya, ketika itu kita telah membuka pintu-pintu ambisi ketamakan, kerakusan, kekikiran dan keluh kesah.

5. Memohon kepada Allah
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, sikap menjaga martabat, dan kekayaan.”(HR. Muslim) Syaikh Abdurrahman Nashir As-Sa’di, berkata:”Ini merupakan salah satu doa yang paling luas cakupan maknanya dan paling bermanfaat. Doa ini mengandung permohonan agar dikarunia kebaikan didunia dan akhirat.

6.Jauhi si Pengeluh
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Seseorang mengikuti agama kawan dekatnya, maka hendaklah setiap “orang dari kalian memperhatikan siapa yang menjadi kawan dekatnya. “Andaikata anak Adam memiliki dua lembah emas, pasti ia ingin memiliki dua lembah, dan mulutnya tidak kunjung bisa dipenuhi, kecuali dengan tanah. Dan Allah menerima taubat siapa yang bertaubat.

Sumber:  ( aliapesonamuslimah.com )

BLOG.em2u.WEB.ID Islam , , ,

Asas Musyawarah Dalam Islam

April 20th, 2009

Rasûlullâh SAW membawa pasukannya ke mata air Badr agar bisa mendahului pasukan orang-orang Quraisy untuk menguasai mata air itu. Maka pada petang hari mereka sudah tiba di dekat mata air Badr. Di sinilah Al-Hubâb bin Al-Mundzir ra tampil layaknya seorang penasehat militer, seraya bertanya: “Wahai Rasûlullâh, bagaimana pendapat engkau tentang keputusan berhenti di tempat ini ? Apakah ini tempat berhenti yang diturunkan Allah kepada engkau ? Jika begitu keadaannya, maka tidak ada pilihan bagi kami untuk maju atau mundur dari tempat ini. Ataukah ini sekedar pendapat, siasat dan taktik perang ?” Beliau menjawab : “ini adalah pendapatku, siasat dan taktik perang.”

Al-Hubâb berkata : “Wahai Rasûlullâh, menurutku tidak tepat jika kita berhenti di sini. Pindahkanlah orang-orang ke tempat yang lebih dekat lagi dengan mata air daripada mereka (orang-orang musyrik Makkah). Kita berhenti di tempat itu dan kita timbun kolam-kolam di belakang mereka, lalu kita buat kolam yang kita isi air hingga penuh. Setelah kita berperang menghadapi mereka. Kita bisa minum dan mereka tidak bisa”. Beliau bersabda : “Engkau telah menyampaikan pendapat yang jitu” (Shafiyyur Rahmân al Mubârakfûry dalam ar-Rahîqul Makhtûm)

Kisah dalam perang Badar tersebut merupakan sekelumit dari kisah Rasûlullâh SAW yang memperhatikan musyawarah sebelum pengambilan keputusan dalam peperangan atau dalam masalah lain, sebagaimana perintah Allah SWT kepadanya untuk selalu bermusyawarah.

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Q.S. Ali Imran/3:159).

Walaupun teks ayat tersebut ditujukan kepada nabi Muhammad SAW agar bermusyawarah dengan para shahabat dalam persoalan-persoalan tertentu, akan tetapi ayat tersebut merupakan petunjuk bagi setiap muslim untuk melakukannya. Musyawarah juga dilakukan oleh generasi setelah beliau, sebagaimana Umar ibnul Khattâb ra yang menunjuk Utsman,‘Alî, Thalhah, Az-Zubair, Sa’ad dan Abdurrahman bin ‘Auf ra sebagai rijâlusy syurâ menjelang wafatnya. (Ibnu Katsier/4:105)

Dalam al-Qur’an ada tiga ayat yang menyebutkan tentang musyawarah, dengan kata [1]. Tasyâwurin (Q.S. Al-Baqarah/2:233), berkenaan dengan diperbolehkannya menyapih anak yang masih dalam masa persusuan sebelum sempurna 2 tahun, dengan syarat ada musyawarah dan saling ridha antara kedua orang tua, [2]. syâwir (Q.S. Ali Imrân/3:159), berkenaan dengan perintah untuk bermusyawarah dalam segala urusan, dan [3] Syûrâ (Q.S. Asy-Syûrâ/42:38), berekenaan dengan salah satu karakteristik orang beriman adalah melakukan musyawarah diantara mereka dalam berbagai urusan. Dengan hanya disebutkan dalam tiga ayat ini sepintas musyawarah tidak mendapatkan perhatian yang cukup. Namun dugaan tersebut akan sirna ketika kita mau menggali lebih dalam kandungan ayat-ayat tersebut. Pentingnya musyawarah sebagaimana ditulis oleh Al-Qurthûbî (w. 671 H.), mengutip pendapat Ibnu ‘Atiyah : “Musyawarah adalah salah satu kaidah syara’ dan ketentuan hukum yang harus ditegakkan, maka barangsiapa yang menjabat sebagai kepala negara, tetapi ia tidak bermusyawarah dengan ahli ilmu dan agama (ulama) haruslah dipecat”.

Apabila kita menilik berbagai mu’jam bahasa Arab maka kata musyawarah berasal dari kata =sya-wa-ra= yang pada mulanya bermakna mengeluarkan madu dari sarang lebah. (At-Thâhir Ahmad Az-Zawî, Tartîbul Qamûs Al-Muhîth/2 hal. 779). Sedangkan musyawarah sendiri bermakna mengambil pendapat (Ibrâhim Musthafâ, Al-Mu’jamul Wasîth, hal. 449). Kata musyawarah pada dasarnya hanya dapat digunakan untuk hal-hal yang baik, sejalan dengan makna dasarnya, yaitu mengambil madu. Maka unsur-unsur musyawarah yang harus dipenuhi adalah ; [1]. Al-Haq, yang dimusyawarahkan adalah kebenaran, [2]. Al-’Adlu, musyawarah mengandung nilai keadilan, [3]. Al-Hikmah, musyawarah dilakukan dengan bijaksana. [Taufiq Ash-Shawi dalam asy-Syûrâ].

Madu dihasilkan oleh lebah, maka orang-orang yang bermusyawarah selayaknya bagaikan lebah sehingga dalam musyawarah akan didapatkan hasil yang optimal. Rasulullah mengumpamakan seorang mukmin dengan lebah, dimana lebah merupakan makhluk yang sangat disiplin, kerjasamanya mengagumkan, makanannya sari kembang, dan hasilnya madu. Di manapun hinggap ia tidak merusak dan ia tidak mengganggu kecuali diganggu, bahkan sengatannya dapat dijadikan obat. [HR. Ibnu Hibban, Ibnu 'Asakir dan Bukhari dalam At-Tarikh Al Kabir yang dishahihkan Imam Al Al bani dalam kitab As Silsilah As Shahihah no:355 dan 2288].

Ada beberapa sikap yang harus dimiliki sebelum melakukan permusyawaratan, sebagaimana pelajaran dari Allah SWT dalam Q.S. Ali Imrân/3:159. Pertama, bersikap lemah lembut, menghindari tutur kata yang kasar serta sikap keras kepala, karena hal-hal inilah yang dapat merusak dan mengahancurkan sendi-sendi permusyawaratan. Kedua, memberi maaf kepada orang lain yang pernah bersalah maupun berbuat salah dalam bermusyawarah ketiga, Mengharap maghfirah dan dekat kepada Allah, yang akan menununjukkan berbagai hidayah dan ide-ide cemerlang, keempat, bertawakkal kepada Allah SWT atas hasil usaha yang telah dilakukan.

Dalam konteks ketatanegaraan Islam, para ulama’ mengistilahkan musyawarah dengan syûrâ sebagaimana tercantum dalam Q.S. Asy Syurâ/42:38.

“Orang-orang yang mematuhi seruan rabb mereka, melaksanakan shalat (dengan sempurna), serta urusan mereka diputuskan dengan musyawarah antar mereka, dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka”.

Sedangkan lembaga yang melaksanakan musyawarah adalah Ahlusy-syûrâ. Nama lain dari Ahlusy-syûrâ adalah ahlul halli wal ‘aqdi, yaitu lembaga perwakilan yang menampung dan menyalurkan aspirasi atau suara masyarakat. Anggota ini terdiri dari orang-orang yang berasal dari berbagai kalangan dan profesi. Merekalah yang antara lain bertugas menetapkan dan mengangkat kepala negara sebagai pemimpin pemerintahan. Al Mawardi menyebut ahlul halli wal ‘aqdi dengan ahlul ikhtiyâr, karena merekalah yang berhak memilih khalifah, sedangkan Ibnu Taimiyah menyebutnya dengan ahluhsy syawkah.

Adapun hal-hal yang harus dimusyawarahkan adalah hal-hal yang tidak qath’î dan belum ditentukan atau dirincikan oleh Allah SAW. Rasyîd Ridla berpendapat bahwa ahlusy syûrâ hanya memusyawarahkan hal-hal yang berkenaan dengan agama, lain dengan Ar-Râzi dan Muhammad Abduh yang berpendapat bahwa selain urusan agama, ahlusy syûrâ juga memusyawarahkan hal-hal yang berkenaan dengan masalah-masalah sosial, ekonomi, politik, pemerintahan, keluarga dan lain-lainnya (Abu Ukasyah).

Sumber: ( Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia )

BLOG.em2u.WEB.ID Islam